Google+ Followers

Minggu, 25 November 2012

Makalah Satuan Proses: Pembuatan Sabun Cair Cuci Piring



I.                    PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Penggunaan sabun sudah tidak asing lagi dalam kehidupan sehari-hari. Pada perkembangannya seperti sekarang, semakin banyak jenis sabun yang beredar di pasaran, mulai dari yang bersifat khusus untuk kecantikan maupun umum untuk membersihkan kotoran salah satunya adalah sabun cuci piring. Sabun cuci piring mempunyai dua bentuk, yaitu sabun cuci piring cream dan sabun cuci piring cair. Faktor kepraktisan dan kecepatan larut sabun dalam air pada sabun cair menyebabkan banyak orang lebih memilih menggunakannya daripada sabun cream cuci piring. Selain itu pula disebabkan aroma sabun cream baunya lebih menempel  pada peralatan dapur serta kurang lembut di tangan. Oleh karena itu di mata kuliah satuan proses ini, kami mempelajari proses pembuatan sabun cair cuci piring.
Sabun secara umum merupakan senyawa natrium atau kalium yang mempunyai rangkaian karbon yang panjang dan direaksikan dengan asam lemak khususnya trigliserida dari minyak nabati atau lemak hewani. Sabun dihasilkan oleh proses saponifikasi, yaitu hidrolisis lemak menjadi asam lemak dan gliserol dalam kondisi basa. Pada perkembangannya bentuk sabun menjadi bermacam-macam, yaitu sabun padat, sabun lunak, sabun cair, dan sabun bubuk. Jika basa yang digunakan adalah NaOH, maka produk reaksi berupa sabun keras (padat), sedangkan bila basa yang digunakan berupa KOH, maka produk reaksi berupa sabun cair. Untuk proses lebih lanjutnya akan dibahas semuanya dalam makalah ini.

B.      Tujuan
Tujuan dari pembuatan makalah ini adalah untuk mengetahui proses konversi dan proses pembuatan sabun cair untuk memcuci peralatan rumah tangga dan peralatan makan.



II.                  PEMBAHASAN

Sabun adalah surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan. Sabun biasanya berbentuk padatan tercetak yang disebut batang karena sejarah dan bentuk umumnya. Penggunaan sabun cair juga telah telah meluas, terutama pada sarana-sarana publik. Jika diterapkan pada suatu permukaan, air bersabun secara efektif mengikat partikel dalam suspensi mudah dibawa oleh air bersih. Di negara berkembang, deterjen sintetik telah menggantikan sabun sebagai alat bantu mencuci atau membersihkan (Anonim 2012). Sabun ini merupakan logam alkali dengan rantai asam monocarboxylic yang panjang. Larutan alkali yang biasa digunakan pada sabun batang adalah NaOH sedangkan untuk sabun cair adalah KOH.
Banyak sabun merupakan campuran garam natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak dengan direaksikan dengan alkali (seperti natrium atau kalium hidroksida) pada suhu 80–100 °C melalui suatu proses yang dikenal dengan saponifikasi. Lemak akan terhidrolisis oleh basa, menghasilkan gliserol dan sabun mentah.
Sabun juga merupakan suatu gliserida (umumnya C16 dan C18 atau karboksilat) yang merupakan hasil reaksi antara ester (suatu derivat asam alkanoat yaitu reaksi antara asam karboksilat dengan alkanol yang merupakan senyawa aromatik dan bermuatan netral) dengan hidroksil dengan residu gliserol (1.2.3 – propanatriol). Apabila gliserol bereaksi dengan asam–asam yang jenuh (suatu olefin atau polyunsaturat) maka akan terbentuk lipida (trigliserida atau triasilgliserol) (Atmojo 2012).
Dalam pembuatan sabun peran zat pembantu dan pengisi sangat besar karena akan sangat menentukan mutu dan penampakan sabun yang akan dijual. Zat-zat yang biasa digunakan adalah:
1.       Garam, berfungsi sebagai pengental. Semakin banyak jumlah garam yang digunakan dalam sabun maka sabun yang dihasilkan akan semakin kental.
2.       Alkali, pengatur pH larutan sabun dan penambah daya deterjensi.
3.       Zat pemberi busa, untuk meningkatkan pencucian yang bersih, sebab tanpa busa
kemungkinan besar sabun telah mengendap sebagai sabun kalsium atau sabun tidak larut lainnya.
4.       EDTA, sebagai pengikat logam sadah dan pengawet.
5.       Pewangi, untuk memberikan aroma tertentu sesuai selera dan meningkatkan daya tarik serta daya jual sabun.
6.       Zat warna, memberi warna pada sabun agar mempunyai penampilan menarik (Bunga 2008)

Pemilihan Material yang Akan Dikonversi
Bahan baku untuk membuat sabun ini adalah minyak nabati yaitu minyak kelapa yang memiliki kandungan asam lemak jenuh tinggi, terutama asam laurat sehingga tahan terhadap oksidasi yang menimbulkan bau tengik. Bahan baku utama lainnya adalah alkali jenis KOH (Kalium Hidorksida) yang khusus digunakan dalam pembuatan sabun cair karena sifatnya yang mudah larut dalam air.
Adapula bahan pendukung untuk membuat sabun cair cuci piring ini sehingga menghasilkan busa yang melimpah dan beraroma jeruk serta adanya penambahan concentreted lime juice sebagai pembersih lemak yang dapat membersihkan 1,5 kali lebih cepat. Bahan pendukung lainnya yaitu garam dan bahan-bahan aditif seperti: 1) Builders (bahan penguat) digunakan untuk melunakkan air sadah serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas. Adapun bahan yang sering digunakan adalah senyawa-senyawa kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, dan natrium silikat atau zeolit, 2) Fillers inert (bahan pengisi) digunakan untuk memperbanyak atau memperbesar volume.Umumnya menggunakan bahan seperti sodium sulfat, tetra sodium pyrophospat, dan sodium sitrat, 3) Pewarna, dan 4) Parfum.Garam sendiri digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin (hasil saponifikasi). Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam cairan garam karena kelarutannya yang tinggi sedangkan sabun akan mengendap. Bahan aditif ditambahkan dalam sabun bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen.
Formulasi bahan untuk pembuatan sabun cair cuci piring ini adalah sebagai berikut: Cottoclarin BM (Sodium Lauryl Ether Sulfate), Sodium Sulfat (Na2SO4), Natrium Clorida (NaCl)/ Garam, Enzim AR, Dewisil Liquid, Foambuster  (Coconut Diethanol Amide), LAS (Linear Alkyl Benzene Sulfonate Sodium), Parfum, Pewarna, dan Aquades.
Cottoclarin BM (Sodium Lauryl Ether Sulfate) berbentuk kental transparan berfungsi sebagai bahan aditif sabun karena menghasilkan busa yang banyak serta daya bersihnya baik. Sodium Sulfat (Na2SO4) berbentuk serbuk putih dan tidak berbau berfungsi membantu dalam kelarutan cottoclarin BM sekaligus sebagai pengental dan mempercepat pengangkatan kotoran (pembersih). Natrium Clorida (NaCl) berbentuk serbuk putih dan tidak berbau berfungsi membantu dalam kelarutan cottoclarin BM dan pengental. Enzim AR berbentuk serbuk putih berfungsi sebagai pembersih lemak. Dewisil Liquid berbentuk cairan kental transparan berfungsi sebagai pengawet. Foambuster (Coconut Diethanol Amide) berbentuk cairan kental berwarna kuning transparan yang berfungsi dalam memperbanyak busa yang dihasilkan. LAS (Linear Alkyl Benzene Sulfonate Sodium) berbentuk  gel kekuningan serta larut dalam air berfungsi sebagai  pembersih lemak, menghasilkan busa banyak, mudah dibilas, kesat, menghilangkan bau amis dan merupakan bahan active sabun yang ramah lingkungan. Parfum berbentuk cairan berwarna kuning dan beraroma jeruk nipis yang berfungsi sebagai pengharum. Pewarna berbentuk cairan berwarna hijau yang berfungsi sebagai pewarna produk. Aquades berbentuk cairan jernih yang berfungsi sebagai pelarut.
Alat yang digunakan untuk pembuatan sabun cair cuci piring ini antara lain: Baskom, Gelas ukur 500 ml, Gelas ukur 250 ml, Cawan kaca, Pipet tetes, Gelas arloji, Weight bottle, Sendok, Palet, Centong, Kain lap, Stirer magnetic, dan Stirer plate.  
 
Pemilihan Proses Konversi dan Kondisi Proses
Sabun dibuat melalui proses saponifikasi lemak minyak dengan larutan alkali membebaskan gliserol. Dari segi kepraktisan dan kecepatan, sabun cair lebih cepat larut dalam air karena menggunakan KOH dan minyak kelapa yang memiliki kandungan asam laurat dan miristat tinggi sehingga dapat membuat sabun mudah larut dan berbusa. Pada saat memasukkan KOH ke dalam air untuk dilarutkan air yang semula keruh namun setelah diaduk akan bening kembali yang artinya KOH sudah larut dalam air (Amin 2011).
Pada saat proses saponifikasi sabun, minyak yang ditambah dengan alkali harus dalam keadaan mendidih pada suhu 80–100 °C. Setelah proses saponifikasi digunakan bahan pendukung untuk menyempurnakan sabun cair tersebut berupa garam. Garam Natrium atau kalium dari asam lemak yang dapat diturunkan dari minyak atau lemak yang direaksikan dengan alkali pada suhu 80–100 °C. Lemak akan terhidrolisis oleh basa menghasilkan gliserol dan sabun mentah secara umumnya.
Titik akhir proses saponifikasi adalah trace yang merupakan suatu kondisi dimana minyak yang diaduk mulai mengental. Pada saat ini biasanya ditambahkan pengharum, pewarna, dan bahan aditif lainnya.
Proses Pembuatan Sabun Cair Cuci Piring secara utuhnya adalah sebagai berikut:
1.          Campurkan Cottoclarin BM dengan LAS lalu aduk hingga merata kemudian tambahkan juga NaCl (17,51 gram)  pada campuran tersebut, aduk hingga rata.(Campuran I)
2.          Campurkan sodium sufat dan NaCl (17,51 gram) bersama dengan dewisil liquid kedalam 500 ml aquades, aduk hingga larut.Sebelumnya larutkan NaCl dengan 100 ml aquades.(Campuran II)
3.          Lalu perlahan – lahan tuangkan campuran II ke campuran I aduk hingga rata dan homogen.
4.          Tuangkan foam buster dan enzim AR kedalam campuran aduk hingga rata.
5.          Masukkan pewarna, parfum, dan ekstrak jeruk nipis serta sisa air ke dalam campuran.
6.          Kemudian tes pH-nya hingga menghasil PH 7. jika terlalu basa dapat ditambahkan asam sitrat, kemudian jika terlalu encer dapat ditambahkan NaCl.
7.          Mengukur Volume produk yang dihasilkan.
8.          Kemas produk dalam botol berukuran tertentu sesuai dengan keinginan.
9.          Diamkan produk selama 12 jam maka hasil produk yang semulanya tidak jernih menjadi jernih.
 
Gambaran Reaksi yang Terjadi



Reaksi pembuatan sabun (Saponifikasi) adalah sebagai berikut:
Gambar 1. Reaksi Pembuatan Sabun

                Pada proses saponifikasi trigliserida dengan suatu alkali, reaktan tidak mudah bercampur. Reaksi saponifikasi ini dapat mengkatalisis dengan sendirinya pada kondisi tertentu. Jumlah alkali yang dibutuhkan untuk mengubah paduan trigliserida menjadi sabun dapat dihitung berdasarkan persamaan berikut :
Trigliserida + 3NaOH → 3RCOONa + Gliserin
NaOH= [SV x 0,000713] x 100/NaOH (%) [SV/1000] x [MV (NaOH)]/MV(KOH)
Dimana SV adalah angka penyabunan dan MV adalah berat molekul (Lukita 2011).

Deskripsi Produk yang Akan Dihasilkan
Produk merupakan sabun yang berbentuk cair yang khusus untuk membersihkan peralatan rumah tangga atau peralatan masak dan peralatan makan. Material yang dipakai yaitu bahan–bahan yang ramah lingkungan dan menghasilkan kualitas baik yaitu dengan busa yang melimpah.
Sabun cair yang telah melewati proses saponifikasi ini menggunakan gliserin dan alkohol untuk meningkatkan kejernihannya. Sehingga sabun cair ini akan benar-benar terlihat transparan (tidak keruh ) dan akan terlihat menarik.
                Sabun cair yang digunakan untuk mencuci peralatan rumah tangga ini dapat menghasilkan busa yang lebih dengan berbau harum dan menyegarkan. Bau harum ini ditimbulkan oleh jeruk nipis yang terikat wanginya sehingga ketika digunakan tidak hanya berbau sabun tetapi juga berbau jeruk nipis. Sabun cair ini juga dapat bekerja secara maksimal dalam membersihkan kotoran sebagai fungsi utamanya. Oleh karena itu, dikarenakan pada proses pembuatan sabun menggunakan ekstrak jeruk nipis, maka selain dapat membersihkan perlatan rumah tangga dan peralatan makan dengan sempurna juga memiliki aroma jeruk nipis yang menyegarkan.

III.               PENUTUP

A.      Simpulan
Sabun merupakan surfaktan yang digunakan dengan air untuk mencuci dan membersihkan sabun.Bentuknya dapat berupa padatan, serbuk, maupun padat.Dalam pembuatan sabun, mutu sangat ditentukan oleh peran zat pembantu dan pengisinya.
Dalam membuat sabun cair, digunakan minyak kelapa karena kandungan lemak jenuhnya.Selain itu ditambahkan dengan alkali KOH karena sifatnya yang mudah larut dalam air. Adapula bahan pendukung dalam pembuatan sabun cair untuk cuci piring ini adalah penambahan concentreted lime juice sebagai pembersih lemak. Bahan pendukung lainnya adalah garam dan bahan-bahan aditif seperti builders (bahan Ppnguat) digunakan untuk melunakkan air sadah serta membantu mendispersikan dan mensuspensikan kotoran yang telah lepas.Adapun bahan yang sering digunakan adalah senyawa-senyawa kompleks fosfat, natrium sitrat, natrium karbonat, dan natrium silikat atau zeolit, 2) Fillers inert (Bahan Pengisi) digunakan untuk memperbanyak atau memperbesar volume.Umumnya menggunakan bahan seperti sodium sulfat, tetra sodium pyrophospat, dan sodium sitrat, 3) Pewarna, dan 4) Parfum. Garam sendiri digunakan untuk memisahkan produk sabun dan gliserin (hasil saponifikasi). Gliserin tidak mengalami pengendapan dalam cairan garam karena kelarutannya yang tinggi sedangkan sabun akan mengendap. Bahan aditif ditambahkan dalam sabun bertujuan untuk mempertinggi kualitas produk sabun sehingga menarik konsumen.Cottoclarin BM (Sodium Lauryl Ether Sulfate) berbentuk kental transparan juga diformulasikan untuk pembuatan sabun cair transaparan untuk cuci piring ini karena berfungsi sebagai bahan aditif sabun karena menghasilkan busa yang banyak serta daya bersihnya baik.
Pembuatan sabun melalui proses saponifikasi lemak minyak dengan larutan alkali.setelah proses saponifikasi, sabun cair disempurnakan dengan penambahan bahan pendukung berupa garam. Pada proses saponifikasi trigliserida dengan suatu alkali, reaktan tidak mudah bercampur. Reaksi saponifikasi ini dapat mengkatalisis dengan sendirinya pada kondisi tertentu.
Setelah melalui proses-proses tersebut, produk sabun cair ini akan berupa sabun cair transparan yang digunakan untuk membersihkan peralatan rumah tangga dan peralatan makan dengan busa yang melimpah, berwarna transparan menarik, dan berbau harum dengan wangi jeruk nipis yang menyegarkan.

B.      Saran
Dalam pembuatan sabun ini sebaiknya tahapan dalam memformulasikan bahan-bahannya harus sesuai dengan prosedur. Karena apabila pembuatan sabun tidak dilakukan sesuai dengan prosedur, maka warna sabun yang dihasilkan tidak akan menarik karena akan terlihat keruh. Selain itu bau harum tidak akan terikat dengan baik apabila ekstrak jeruk nipis tidak dimasukan sesuai dengan prosedurnya.


Tidak ada komentar:

Poskan Komentar